Syfa
Rizkiyani, MM Universitas Trilogi Jakarta
Sumber daya manusia (SDM)
merupakan modal penting bagi organisasi atau perusahaan. Keberadaan karyawan
yang handal dipandang sebagai motor penggerak bagi setiap kegiatan perusahaan.
Sumber daya manusia merupakan satu-satunya aset perusahaan yang bernafas atau
hidup, disamping aset-aset lain yang tidak bernafas atau bersifat kebendaan
seperti uang, gedung, mesin, peralatan kantor, persediaan barang, dan sebagainya
yang mana sumber daya manusia-lah yang mengelola sumber daya – sumber daya yang
lainnya. Sebuah organisasi tidak bisa terlepas dari sumber daya manusia yang
mengelolanya karena manusia yang mengatur perputaran roda kehidupan suatu
organisasi, baik organisasi pemerintah atau organisasi swasta, organisasi kecil
maupun organisasi besar, organisasi yang berorientasi laba maupun nirlaba. Maju
mundurnya organisasi sangat ditentukan oleh peran aktif setiap sumber daya
manusia yang ada dalam organisasi tersebut.
Dalam mencapai tujuannya suatu
organisasi harus memiliki sumber daya manusia yang berkompetensi tinggi. Oleh
karena itu, sumber daya manusia dalam suatu organisasi harus dikelola dan
dikoordinir dengan baik supaya mendukung pencapaian rencana strategis
organisasi. Pengelolaan dan pengkoordinasian sumber daya manusia meliputi
rekrutmen, seleksi, penempatan, pelatihan, pengembangan, dan jenjang karir.
Perusahaan dituntut untuk
memperoleh sumber daya manusia yang kompeten, di mana perusahaan harus
mempertimbangkan pengadaan sumber daya manusia melalui rekrutmen dan seleksi
tenaga kerja. Rekrumen merupakan tahap awal dalam proses pengelolaan dan
pengkoordinasian sumber daya manusia. Rekrutmen adalah suatu proses untuk
mendapatkan sejumlah karyawan yang berkualitas untuk menduduki suatu jabatan
atau pekerjaan dalam suatu perusahaan (Hasanah & Indahingwati, 2017).
Rekrutmen memiliki peran yang
sangat penting dalam setiap perusahaan karena dengan adanya rekrutmen,
perusahaan bisa mendapatkan karyawan yang memiliki kualitas tinggi yang sesuai
dengan standar perusahaan. Melalui rekrutmen, perusahan dapat mengetahui sifat
dan perilaku yang dimiliki oleh seorang pelamar, sehingga perusahaan dapat
melihat dan mempertimbangkan apakah pelamar tersebut sesuai atau tidak dengan
budaya organisasi yang diterapkan oleh suatu perusahaan.
Umumnya, rekrutmen dan seleksi
diadakan dengan memusatkan perhatian pada ketersediaan calon tenaga kerja baik
yang ada di luar organisasi (eksternal) maupun dari dalam organisasi
(internal). Menurut Hollenbeck, dkk., dalam Suwarto dan Subyantoro (2019),
seleksi karyawan adalah proses untuk memutuskan apakah pelamar kerja memenuhi
syarat untuk suatu posisi tertentu di suatu perusahaan. Sebuah organisasi tidak
akan berhasil kecuali jika memiliki karyawan yang potensial dan berkualifikasi
tinggi. Proses seleksi merupakan bagian penting dalam keseluruhan proses pengelolaan
sumber daya manusia. Proses seperti itu memungkinkan untuk mempekerjakan
karyawan berpotensi tinggi dan berkualitas, tergantung pada seberapa baik
perusahaan menerapkan proses seleksi.
Perekrutan akan memainkan
peran strategis dalam bisnis perusahaan. Strategi rekrutmen yang tepat akan
menghasilkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan.
Keakurat-an metode rekrutmen akan berdampak positif pada kinerja perusahaan dan
bisnis secara keseluruhan. Rekrutmen yang efektif harus dapat memperoleh sumber
daya manusia yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Tetapi ada artikel yang di
tulis oleh Laurie L. Levesque berkaitan dengan proses rekrutment dimana
rekrutment dilakukan dimana pekerjaannya belum ada atau disebut perekrutan
opportunistik dimana tujuannya adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang dibuat
secara khusus bukan mengisi suatu posisi yang kosong atau menduplikasi posisi
yang sudah ada (Miner, 1987).
Opportunistic Hiring/
Perekrutan Opportunistic adalah proses perekrutan dimana orang yang tersebut di
rekrut oleh sebuah perusahaan namun sebenarnya perusahaan tersebut tidak
mempunyai jabatan yang orang ini kerjakan sebelumnya. Dengan kata lain, jabatan
dibuat setelah adanya kandidat/orang yang akan bekerja tersebut.
Pada revolusi industri 4.0,
kondisi Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA)
menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh perusahaan. VUCA
merupakan kondisi terjadinya perubahan yang sangat cepat, penuh ketidakpastian
di masa depan, tidak memiliki arah, dan berasal dari sebab akibat yang tidak
jelas. Hal ini menuntut perusahaan untuk terus adaptif dalam menghadapi kondisi
tersebut selain itu pekerja juga harus mengembangkan “skill” atau kemampuannya
agar lebih mudah untuk “dilirik” oleh perusahaan.
Tidak menutup kemungkinan dan
seiring berjalannya waktu, perekrutan opportunistik akan dapat berkembang. 3
sampai 5 tahun ke depan “mungkin” sulit untuk mendapatkan tempat yang kita
inginkan, sehingga kita perlu menggembangkan diri untuk dapat memberikan
sesuatu kepada perusahaan. Overskill yang dimiliki oleh seorang kandidat
sehingga perusahaan tidak mau menyia-nyiakan Sumber Daya Manusia terbaik yang
ada di depan mata. Perekrutan oportunistik melibatkan pengidentifikasian bakat
dengan terus-menerus terhubung dan terlibat dengan para profesional. Perusahaan
tidak akan membiarkan talenta terbaik lolos karena tidak ada lowongan pekerjaan
tertentu, karena melihat potensi kesuksesan yang di sia-siakan.
Perekrutan opportunistik “biasanya”
dilakukan oleh perusahaan besar yang sudah mapan, dengan kata lain, pertumbuhan
perusahaan memainkan peran penting dalam penggunaan perekrutan opportunistik. Berdasarkan
hasil penelitian di dalam artikel yang di tulis oleh Laurie L. Levesque, 35%
responden mengatakan perusahaan mereka tidak menggunakan perekrutan
oportunistik, sepertiga dari mereka mengatakan mereka akan melakukannya jika
keuangan memungkinkan.
Perusahaan menggunakan
perekrutan oportunistik secara strategis, untuk mencapai beragam tujuan, termasuk
pertumbuhan, pengembangan produk baru, peluncuran awal, dan pelepasan.
Perekrutan oportunistik juga memungkinkan perusahaan untuk mengeksploitasi
teknologi dan pasar, menghindari penundaan produksi dan layanan dengan
menempatkan orang yang tepat sebagai staf pada saat mereka dibutuhkan,
mengoptimalkan perpaduan keterampilan karyawan, dan memperluas dengan membawa
orang-orang dengan keterampilan yang berguna secara luas.
Dapat di simpulkan bahwa
seseorang yang direkrut secara oportunistik memiliki kehandalan atau kemampuan
yang berbeda dari pekerja lainnya, orang yang cerdas dan pekerja keras, tetapi
tidak menutup kemungkinan bahwa saat proses dalam bekerja pekerja yang direkrut
secara oportunistik kemudian tampak kurang dalam beberapa aspek pekerjaan
barunya karena perekrutan oportunistik itu sendiri dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan yang mendesak.
Di lapangan kita jarang sekali
mendengar istilah “opportunistic hiring”, mungkin masyarakat banyak yang belum
pernah mendengar istilah ini atau bahkan tidak tahu sama sekali dengan istilah
ini, tetapi jika diperdalam mungkin kita sendiri yang pernah mengalami. Beberapa
perusahaan baru melaporkan mencari karyawan dengan keterampilan luas yang dapat
melakukan berbagai tugas dan/atau mencakup berbagai bidang. Di beberapa
perusahaan muda, karyawan saat ini diberi fleksibilitas untuk membuat pekerjaan
baru atau pekerjaan yang diubah yang lebih sesuai dengan minat mereka, tetapi
tidak sampai karyawan baru didatangkan untuk membantu mengisi kekosongan yang
akan diciptakan oleh lowongan ini.
Perkerutan oportunistik sangat
jarang didiskusikan dalam lileratur SDM karena perekrutan tersebut bertolak
belakang dengan proses perekrutan pada umumnya, tetapi tidak menutup
kemungkinan perekrutan oportunistik dapat berkembang dikarenakan kebutuhan
pekerja yang fleksibel khususnya diperusahaan-perusahaan start-up, yang
memberikan keleluasaan bagi pekerja untuk mengembangkan kemampuan mereka untuk
kemajuan organisasi.
Di pasar tenaga kerja yang ketat, mendapatkan talenta sering kali bisa menjadi lebih penting daripada mengisi peran tertentu. Tetapi menerapkan rekrutmen proaktif semacam ini membutuhkan perencanaan dan kesabaran. Berikut adalah beberapa cara untuk membuat perekrutan oportunistik bekerja untuk organisasi:
- Menjaga jaringan yang kuat seperti terhubung melalui LinkedIn, acara industri, atau pertemuan sosial, melacak rekan kerja adalah kunci perekrutan oportunistik. Klub alumni, program kepemimpinan, dan bahkan acara olahraga sekolah dapat menawarkan peluang untuk terhubung dan mengidentifikasi bakat potensial.
- Coba sebelum membeli. Jika gagasan untuk mempekerjakan seseorang tanpa memikirkan peran yang ditentukan terlalu berisiko, pertimbangkan untuk mempekerjakan orang tersebut sebagai kontraktor. Pengaturan ini memberi waktu untuk menguji keterampilan mereka dan memungkinkan mereka mempelajari lebih lanjut tentang organisasi Anda, tetapi juga mengeluarkan mereka dari kumpulan bakat yang kompetitif.
- Percayakan pada ahlinya. Ada beberapa perusahaan yang mempertahankan headhunter sebagai pengikut hanya untuk tujuan mengawasi perekrutan oportunistik. Ini membantu membebaskan waktu bagi para eksekutif sibuk yang tidak ingin kehilangan bakat tetapi tidak dapat menyesuaikan perekrutan dengan jadwal mereka. Perekrut juga dapat membuat proses lebih efisien karena mereka akan dapat mencocokkan bakat untuk memenuhi budaya dan lintasan pertumbuhan di perusahaan.
Source:
Levesque Laurie L., 2005. Opportunistic Hiring And Employee Fit.
Apriyanti D., 2021. Analisis Rekrutmen Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan pada PT. Catur Pilar Makmur Sejahtera, Focal Point Medan. Available at: https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/41401
Kompasiana.com. Apa itu perekrutan opportunistic. 9 April
2022. Available at: https://www.kompasiana.com/ayupuji/6251accc3794d1101524d2c3/apa-itu-perekrutan-opportunistik
No comments:
Post a Comment