Political Skill, Teori Mobilitas Karir dan Kinerja
Organisasi
Syfa Rizkiyani, MM Universitas Trilogi Jakarta
Di era globalisasi yang berkembang
begitu pesatnya, menuntut organisasi untuk menyiapkan sumber daya manusia
berkualitas agar kinerja sebuah organisasi dapat tercapai dengan efektif dan
efisien. Sebuah organisasi, tidak lepas dari faktor manusianya itu sendiri yaitu
Sumber Daya Manusia. Saat ini, Sumber Daya Manusia tidak hanya berperan pada
urusan administratif tetapi dipandang sebagai asset yang paling utama dalam
menunjang kinerja organisasi. Menurut Mayo (2000) mengukur kinerja perusahaan dari
perspektif keuangan sangatlah akurat tetapi sebenarnya yang menjadi dasar
penggerak nilai dari keuangan tersebut adalah sumber daya manusia (human
capital) dengan segala pengetahuan, ide, dan inovasi yang dimilikinya.
Selain itu, human capital merupakan inti dari suatu perusahaan.
Pada praktiknya, walau saat ini
pekerja dipandang sebagai asset yang dapat dikembangkan oleh perusahaan, faktor
utama kesesuksesan organisasi berada pada diri pekerja itu sendiri. Peran aktif
manajemen dalam dalam upaya peningkatan produktivitas pekerja sangatlah
penting, tetapi pekerja harus memiliki strategi dan kemampuan untuk dapat
sukses di dalam organisasi. Ada satu konsep dari Ferris et al (2005) mengenai political
skill atau keterampilan politik yang sangat bermanfaat bagi pekerja.
Political Skill
adalah kemampuan untuk memahami orang lain di tempat kerja dan menggunakan
pengetahuan itu untuk mempengaruhi orang lain agar bertindak dengan cara yang meningkatkan
tujuan pribadi atau organisasi seseorang (Ferris, Gerald R., 2005). Ada 4 indikator
yang mempengaruhi keterampilan politik seseorang, yaitu:
1. Ketajaman
sosial (Social Astuteness)
Karakter individu ini sensitif
terhadap orang lain, dan dia berpendapat bahwa kemampuan untuk mengidentifikasi
orang lain sangat penting untuk mendapatkan kepentinganya. Orang yang memiliki
kecerdasan sosial sering dipandang cerdik, bahkan proaktif dalam berurusan
dengan orang lain. Dengan kata lain, seseorang tersebut sangat mampu
memperhatikan dan memahami sikap dan karakter orang lain.
2. Pengaruh
Interpersonal
Pengaruh interpersonal yaitu individu
yang memiliki keahlian politik dan kepribadian yang sederhana serta meyakinkan
akan memberi pengaruh kuat pada orang lain disekitar mereka. Daya pengaruh itu
bisa berasal dari pengetahuanya dan kecerdasannya. Pengaruh interpersonal dapat
memungkinkan kita untuk mempengaruhi orang dan menyesuaikan diri kita dengan perilaku
mereka pada situasi yang berbeda untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan.
3. Kemampuan
Networking
Kemampuan networking
atau kemampuan membangun jaringan adalah individu yang mempunyai keterampilan
politik ahli dalam mengidentifikasi dan mengembangkan beragam kontak dan
jaringan orang. Orang-orang di jaringan ini cenderung memegang aset yang
dipandang berharga dan perlu untuk keuntungan pribadi dan organisasi yang
mengejar keberhasilan. Karena gaya mereka yang biasanya halus, orang-orang yang
secara politis terampil dapat dengan mudah mengembangkan persahabatan,
membangun aliansi dan koalisi yang kuat serta menguntungkan. Selain itu, individu
yang memiliki kemampuan jaringan tinggi memastikan mereka berada pada posisi
yang baik untuk menciptakan dan memanfaatkan peluang (Pfeffer, 1992). Akhirnya,
mereka seringkali adalah para negosiator dan pembuat kesepakatan yang sangat
terampil, dan ahli dalam manajemen konflik.
4. Ketulusan
Orang yang memilki kecakapan politik
terlihat pada orang lain yang memiliki integritas tinggi dan tulus. Mereka
terlihat jujur dan terus terang. Keterampilan politik ini sangat penting jika
usaha pengaruhnya berhasil, karena berfokus pada niat yang dirasakan dari
perilaku yang dipamerkan. Perasaan atau motif yang dirasakan penting, dan telah
diperdebatkan untuk memodifikasi interpretasi dan pelabelan perilaku. Seperti
dicatat oleh Jones and pusey (2010) upaya pengaruhnya akan berhasil apabila
pemain inti dianggap tidak memiliki motif tersembunyi. Individu yang memiliki
ketulusan tinggi mengilhami kepercayaan diri dari orang-orang yang berada dalam
lingkupnya, karena tindakan mereka tidak dimaknai sebagai manipulatif atau pemaksaan.
Melihat 4 indikator political skill
di atas, bahwa individu yang memiliki political skill berpengaruh untuk
individu itu sendiri, untuk orang lain, dan juga untuk organisasi. Pengaruh
bagi diri sendiri yaitu untuk dapat mengembangkan sumber daya, motivasi, dan
mencapai tujuan pribadi. Sedangkan pegaruh bagi orang lain yaitu dapat
mempengaruhi orang lain, membentuk jaringan ataupun teamwork. Terakhir,
pengaruh bagi organisasi, individu yang memiliki political skill berperan
sebagai mediator dan memfasilitasi interaksi antar team serta dapat
mengobservasi perubahan organisasi.
Seseorang atau individu yang memiliki political
skill akan berdampak pada cara kepemimpinan pada dirinya ataupun
organisasi. Menurut Yammarino et al., (1993), faktor penting yang menentukan
kinerja karyawan adalah kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan menggambarkan
hubungan antara pemimpin (leader) dengan yang dipimpin (follower) dan bagaimana
seorang pemimpin mengarahkan follower akan menentukan sejauhmana follower
mencapai tujuan atau harapan pimpinan (Locander et al., 2002).
Dukungan pimpinan dapat mempengaruhi kinerja karyawan,
pemimpin harus mampu mendelegasikan tugas dari pimpinan kebawahan dengan
komunikatif, sehingga diperlukan adanya pertemuan untuk membahas tentang masalah-masalah
yang dihadapi bawahan yang berkaitan dengan pencapaian target. Hal tersebut
didukung oleh Chen (2004) yang menyatakan bahwa dukungan tinggi yang ditunjukkan
oleh pimpinan perusahaan mampu memberikan motivasi yang tinggi dari karyawan
untuk bekerja lebih baik dan mencapai target.
Banyak penelitian yang berhubungan dengan
kepemimpinan dikarenakan kepemimpinan berhubungan dengan kinerja organisasi
(Ilies, Nahrgang, & Morgeson, 2007). Terdapat tiga hal dalam studi
kepemimpinan menurut Graen & Uhl-Bien (1995), yaitu: Pemimpin, Bawahan, dan
hubungan antara pemimpin dan bawahan. Di dalam hubungan antara pimpinan dan
bawahan terdapat keterkaitan dengan konsep political skill yang ada.
Dalam teori Leader – Member Exchange / LMX
(Graen & Uhl-Bien, 1995) kualitas hubungan terbagi menjadi kualitas
hubungan tinggi dan kualitas hubungan rendah. Pemimpin dan bawahan langsung
pada dasarnya terlahir dengan karakteristis tertentu. Karakteristik tersebut
selanjutnya berdasarkan teori identitas sosial membuat mereka memiliki kesamaan
suatu karakteristik tertentu. Karakteristik tertentu tersebut akhirnya
mengarahkan mereka untuk bergabung dengan suatu kelompok yang akhirnya memiliki
karakteristik yang sama. Ketika bawahan memiliki karakeristik yang sama dengan
pemimpin, hubungan keduanya akhirnya mengelompok menjadi satu. Kedekatan
keduanya dalam satu kelompok menyebabkan mereka memiliki kualitas hubungan
pemimpin-bawahan langsung yang tinggi. Kesamaan karakteristik yang ada bisa
berupa kesamaan hobi, kesamaan budaya, kesamaan pola pikir hingga kesamaan
demografi (etnis).
Dalam teori Leader-Member Exchange/LMX di atas,
kualitas hubungan pemimpin-bawahan akan tinggi jika diantara keduanya memiliki
karakteristik yang sama. Tetapi bagaimana caranya untuk menciptakan hubungan
antara pemimpin-bawahan yang tinggi apabila tidak memiliki karakteristik yang
sama? Maka pada point inilah kemampuan political skill sangat berperan.
Seseorang yang memiliki kemampuan memberikan
pengaruh adalah mereka yang memiliki kapabilitas, memiliki kemampuan
beradaptasi, serta seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang
ada dan mampu memanfaatkannya (Ferris et al., 2005). Hubungan pimpinan-bawahan
akan terus tinggi karena political skill yang dimiliki (bawahan) mampu beradaptasi
karena kecerdasan sosialnya, kemampuan memengaruhi, kemampuan membangun
jaringan, dan ketulusan hatinya, termasuk dalam membangun hubungan dengan
pimpinan.
Jika dikaitkan dengan perkembangan karir (Teori
Mobilitas Karir) orang yang memiliki political skill masuk dalam
kategori Sponsored Mobility Norm, yaitu individu yang dipilih untuk
menerima dukungan dan bimbingan tingkat tinggi dari atasan. Walaupun sebenarnya
hal ini tidak menjadi tujuan dari seseorang yang memiliki political skill
tersebut.
Kesimpulan yang dapat diambil bahwa Political
Skill adalah kemampuan bagi seorang individu dalam organisasi yang akan berdampak
pada cara kepemimpinan pada dirinya ataupun organisasi. Dengan kemampuan
politik yang baik di lingkungan kerjanya, akan membuat seseorang mampu menjalin
hubungan dengan siapapun, mampu mempengaruhi orang di sekitar demi kemajuan
organisasi. Dukungan pimpinan dapat mempengaruhi kinerja karyawan, pemimpin
harus mampu mendelegasikan tugas dari pimpinan kebawahan dengan komunikatif,
sehingga diperlukan adanya diskusi yang membahas tentang masalah-masalah yang
dihadapi yang berkaitan dengan pencapaian target. Seseorang dengan political
skill yang tinggi akan mampu memengaruhi sekitarnya dengan bekal kecerdasan
sosial sehingga mampu mengelola masalah-masalah yang ada.
Political Skill yang
dilandasi dengan ketulusan hati akan mampu menciptakan kekompakan pada
teamwork. Dengan kekompakan tersebut menjadi modal sosial bagi organisasi untuk
menciptakan kinerja organisasi yang baik. Modal sosial antara organisasi dapat membantu
dalam mengindentifikasi kebutuhan, memfasilitasi dan memberikan solusi baru
untuk mengatasi kebutuhan organisasi.
Seseorang yang memiliki political skill
bukan berarti seseorang tersebut pasti akan mudah sukses dalam karirnya. Karena
pada dasarnya mereka tulus bekerja untuk organisasi, tidak berambisi, tidak
mencari muka ataupun menjilat, sehingga hal tersebut membuat seseorang dengan political
skill akan stagnan atau tidak berkembang dalam jabatan dan karirnya. Namun
keberadaannya sangat diperlukan bagi perusahaan. Karena dirinya akan mempererat
kelompok dan menjadi modal sosial bagi pertumbuhan organisasi, sehingga seiring
berjalannya waktu ia akan diberikan kesempatan untuk promosi atau naik jabatan.
Daftar Pustaka
Ferris, G. R., Davidson, S. L., & Perrewe,
P. L. (2005). Political Skill at Work. Impact on Work Effectiveness.
Davies-Black Publishing: First Edition.
Utomo, Kabul Wahyu (2017). Pentingkah
Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas
Hubungan Pemimpin-Bawahan?. Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa (Vol. 10), 62.
No comments:
Post a Comment