Wednesday, October 20, 2021

Modal Insnani/Modal Manusia/Human Capital

Political Skill, Teori Mobilitas Karir dan Kinerja Organisasi

Syfa Rizkiyani, MM Universitas Trilogi Jakarta

 

          Di era globalisasi yang berkembang begitu pesatnya, menuntut organisasi untuk menyiapkan sumber daya manusia berkualitas agar kinerja sebuah organisasi dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Sebuah organisasi, tidak lepas dari faktor manusianya itu sendiri yaitu Sumber Daya Manusia. Saat ini, Sumber Daya Manusia tidak hanya berperan pada urusan administratif tetapi dipandang sebagai asset yang paling utama dalam menunjang kinerja organisasi. Menurut Mayo (2000) mengukur kinerja perusahaan dari perspektif keuangan sangatlah akurat tetapi sebenarnya yang menjadi dasar penggerak nilai dari keuangan tersebut adalah sumber daya manusia (human capital) dengan segala pengetahuan, ide, dan inovasi yang dimilikinya. Selain itu, human capital merupakan inti dari suatu perusahaan.

 

          Pada praktiknya, walau saat ini pekerja dipandang sebagai asset yang dapat dikembangkan oleh perusahaan, faktor utama kesesuksesan organisasi berada pada diri pekerja itu sendiri. Peran aktif manajemen dalam dalam upaya peningkatan produktivitas pekerja sangatlah penting, tetapi pekerja harus memiliki strategi dan kemampuan untuk dapat sukses di dalam organisasi. Ada satu konsep dari Ferris et al (2005) mengenai political skill atau keterampilan politik yang sangat bermanfaat bagi pekerja.

 

Political Skill adalah kemampuan untuk memahami orang lain di tempat kerja dan menggunakan pengetahuan itu untuk mempengaruhi orang lain agar bertindak dengan cara yang meningkatkan tujuan pribadi atau organisasi seseorang (Ferris, Gerald R., 2005). Ada 4 indikator yang mempengaruhi keterampilan politik seseorang, yaitu:

 

1.    Ketajaman sosial (Social Astuteness)

Karakter individu ini sensitif terhadap orang lain, dan dia berpendapat bahwa kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain sangat penting untuk mendapatkan kepentinganya. Orang yang memiliki kecerdasan sosial sering dipandang cerdik, bahkan proaktif dalam berurusan dengan orang lain. Dengan kata lain, seseorang tersebut sangat mampu memperhatikan dan memahami sikap dan karakter orang lain.

 

 

2.    Pengaruh Interpersonal

Pengaruh interpersonal yaitu individu yang memiliki keahlian politik dan kepribadian yang sederhana serta meyakinkan akan memberi pengaruh kuat pada orang lain disekitar mereka. Daya pengaruh itu bisa berasal dari pengetahuanya dan kecerdasannya. Pengaruh interpersonal dapat memungkinkan kita untuk mempengaruhi orang dan menyesuaikan diri kita dengan perilaku mereka pada situasi yang berbeda untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan.

 

3.    Kemampuan Networking

Kemampuan networking atau kemampuan membangun jaringan adalah individu yang mempunyai keterampilan politik ahli dalam mengidentifikasi dan mengembangkan beragam kontak dan jaringan orang. Orang-orang di jaringan ini cenderung memegang aset yang dipandang berharga dan perlu untuk keuntungan pribadi dan organisasi yang mengejar keberhasilan. Karena gaya mereka yang biasanya halus, orang-orang yang secara politis terampil dapat dengan mudah mengembangkan persahabatan, membangun aliansi dan koalisi yang kuat serta menguntungkan. Selain itu, individu yang memiliki kemampuan jaringan tinggi memastikan mereka berada pada posisi yang baik untuk menciptakan dan memanfaatkan peluang (Pfeffer, 1992). Akhirnya, mereka seringkali adalah para negosiator dan pembuat kesepakatan yang sangat terampil, dan ahli dalam manajemen konflik.

 

4.    Ketulusan

Orang yang memilki kecakapan politik terlihat pada orang lain yang memiliki integritas tinggi dan tulus. Mereka terlihat jujur dan terus terang. Keterampilan politik ini sangat penting jika usaha pengaruhnya berhasil, karena berfokus pada niat yang dirasakan dari perilaku yang dipamerkan. Perasaan atau motif yang dirasakan penting, dan telah diperdebatkan untuk memodifikasi interpretasi dan pelabelan perilaku. Seperti dicatat oleh Jones and pusey (2010) upaya pengaruhnya akan berhasil apabila pemain inti dianggap tidak memiliki motif tersembunyi. Individu yang memiliki ketulusan tinggi mengilhami kepercayaan diri dari orang-orang yang berada dalam lingkupnya, karena tindakan mereka tidak dimaknai sebagai manipulatif atau pemaksaan.

 

          Melihat 4 indikator political skill di atas, bahwa individu yang memiliki political skill berpengaruh untuk individu itu sendiri, untuk orang lain, dan juga untuk organisasi. Pengaruh bagi diri sendiri yaitu untuk dapat mengembangkan sumber daya, motivasi, dan mencapai tujuan pribadi. Sedangkan pegaruh bagi orang lain yaitu dapat mempengaruhi orang lain, membentuk jaringan ataupun teamwork. Terakhir, pengaruh bagi organisasi, individu yang memiliki political skill berperan sebagai mediator dan memfasilitasi interaksi antar team serta dapat mengobservasi perubahan organisasi.

 

Seseorang atau individu yang memiliki political skill akan berdampak pada cara kepemimpinan pada dirinya ataupun organisasi. Menurut Yammarino et al., (1993), faktor penting yang menentukan kinerja karyawan adalah kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan menggambarkan hubungan antara pemimpin (leader) dengan yang dipimpin (follower) dan bagaimana seorang pemimpin mengarahkan follower akan menentukan sejauhmana follower mencapai tujuan atau harapan pimpinan (Locander et al., 2002).

 

Dukungan pimpinan dapat mempengaruhi kinerja karyawan, pemimpin harus mampu mendelegasikan tugas dari pimpinan kebawahan dengan komunikatif, sehingga diperlukan adanya pertemuan untuk membahas tentang masalah-masalah yang dihadapi bawahan yang berkaitan dengan pencapaian target. Hal tersebut didukung oleh Chen (2004) yang menyatakan bahwa dukungan tinggi yang ditunjukkan oleh pimpinan perusahaan mampu memberikan motivasi yang tinggi dari karyawan untuk bekerja lebih baik dan mencapai target.

 

Banyak penelitian yang berhubungan dengan kepemimpinan dikarenakan kepemimpinan berhubungan dengan kinerja organisasi (Ilies, Nahrgang, & Morgeson, 2007). Terdapat tiga hal dalam studi kepemimpinan menurut Graen & Uhl-Bien (1995), yaitu: Pemimpin, Bawahan, dan hubungan antara pemimpin dan bawahan. Di dalam hubungan antara pimpinan dan bawahan terdapat keterkaitan dengan konsep political skill yang ada.

 

Dalam teori Leader – Member Exchange / LMX (Graen & Uhl-Bien, 1995) kualitas hubungan terbagi menjadi kualitas hubungan tinggi dan kualitas hubungan rendah. Pemimpin dan bawahan langsung pada dasarnya terlahir dengan karakteristis tertentu. Karakteristik tersebut selanjutnya berdasarkan teori identitas sosial membuat mereka memiliki kesamaan suatu karakteristik tertentu. Karakteristik tertentu tersebut akhirnya mengarahkan mereka untuk bergabung dengan suatu kelompok yang akhirnya memiliki karakteristik yang sama. Ketika bawahan memiliki karakeristik yang sama dengan pemimpin, hubungan keduanya akhirnya mengelompok menjadi satu. Kedekatan keduanya dalam satu kelompok menyebabkan mereka memiliki kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung yang tinggi. Kesamaan karakteristik yang ada bisa berupa kesamaan hobi, kesamaan budaya, kesamaan pola pikir hingga kesamaan demografi (etnis).

 

Dalam teori Leader-Member Exchange/LMX di atas, kualitas hubungan pemimpin-bawahan akan tinggi jika diantara keduanya memiliki karakteristik yang sama. Tetapi bagaimana caranya untuk menciptakan hubungan antara pemimpin-bawahan yang tinggi apabila tidak memiliki karakteristik yang sama? Maka pada point inilah kemampuan political skill sangat berperan.

 

Seseorang yang memiliki kemampuan memberikan pengaruh adalah mereka yang memiliki kapabilitas, memiliki kemampuan beradaptasi, serta seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang ada dan mampu memanfaatkannya (Ferris et al., 2005). Hubungan pimpinan-bawahan akan terus tinggi karena political skill yang dimiliki (bawahan) mampu beradaptasi karena kecerdasan sosialnya, kemampuan memengaruhi, kemampuan membangun jaringan, dan ketulusan hatinya, termasuk dalam membangun hubungan dengan pimpinan.

 

Jika dikaitkan dengan perkembangan karir (Teori Mobilitas Karir) orang yang memiliki political skill masuk dalam kategori Sponsored Mobility Norm, yaitu individu yang dipilih untuk menerima dukungan dan bimbingan tingkat tinggi dari atasan. Walaupun sebenarnya hal ini tidak menjadi tujuan dari seseorang yang memiliki political skill tersebut.

 

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa Political Skill adalah kemampuan bagi seorang individu dalam organisasi yang akan berdampak pada cara kepemimpinan pada dirinya ataupun organisasi. Dengan kemampuan politik yang baik di lingkungan kerjanya, akan membuat seseorang mampu menjalin hubungan dengan siapapun, mampu mempengaruhi orang di sekitar demi kemajuan organisasi. Dukungan pimpinan dapat mempengaruhi kinerja karyawan, pemimpin harus mampu mendelegasikan tugas dari pimpinan kebawahan dengan komunikatif, sehingga diperlukan adanya diskusi yang membahas tentang masalah-masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan pencapaian target. Seseorang dengan political skill yang tinggi akan mampu memengaruhi sekitarnya dengan bekal kecerdasan sosial sehingga mampu mengelola masalah-masalah yang ada.

 

Political Skill yang dilandasi dengan ketulusan hati akan mampu menciptakan kekompakan pada teamwork. Dengan kekompakan tersebut menjadi modal sosial bagi organisasi untuk menciptakan kinerja organisasi yang baik. Modal sosial antara organisasi dapat membantu dalam mengindentifikasi kebutuhan, memfasilitasi dan memberikan solusi baru untuk mengatasi kebutuhan organisasi.

 

Seseorang yang memiliki political skill bukan berarti seseorang tersebut pasti akan mudah sukses dalam karirnya. Karena pada dasarnya mereka tulus bekerja untuk organisasi, tidak berambisi, tidak mencari muka ataupun menjilat, sehingga hal tersebut membuat seseorang dengan political skill akan stagnan atau tidak berkembang dalam jabatan dan karirnya. Namun keberadaannya sangat diperlukan bagi perusahaan. Karena dirinya akan mempererat kelompok dan menjadi modal sosial bagi pertumbuhan organisasi, sehingga seiring berjalannya waktu ia akan diberikan kesempatan untuk promosi atau naik jabatan.

 

Daftar Pustaka

 

Ferris, G. R., Davidson, S. L., & Perrewe, P. L. (2005). Political Skill at Work. Impact on Work Effectiveness. Davies-Black Publishing: First Edition.

 

Utomo, Kabul Wahyu (2017). Pentingkah Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan?. Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa (Vol. 10), 62.

No comments:

Post a Comment

  Testimonial Pekerja Terhadap Website Recruitment Syfa Rizkiyani, Magister Manajemen, Universitas Trilogi Saat ini, teknologi begitu berkem...