Friday, April 15, 2022

 Human Capital dan Knowledge Management

        Syfa Rizkiyani, MM Universitas Trilogi Jakarta

 

Informasi dan pengetahuan pada saat ini sangat berharga. Dengan persaingan yang sangat tinggi, perusahaan harus melakukan perbaikan di segala bidang agar tetap bertahan dan meningkat dalam jangka panjang dengan pelayanan yang berdaya saing tinggi. Unsur utama dalam memajukan organisasi adalah sumber daya manusia sebagai motor penggerak, inspirasi dan juga sebagai otak berjalannya suatu perusahaan. Dengan semakin banyak organisasi serta perusahaan yang mulai bermunculan, tingkat persaingan serta perebutan human resource pun cukup tinggi. Berhasil tidaknya suatu usaha diperlukan adanya sumber daya manusia (human capital) yang akan dapat bersaing dengan menggunakan keunggulan kompetitif yang diperoleh melalui inovasi-inovasi kreatif yang dihasilkan oleh modal intelektual yang dimiliki oleh perusahaan.

Menurut pendapat beberapa ahli, pengertian human capital adalah sebagai berikut, menurut Stockley (2003),

 

“The term of human capital is recognition that people in organization and

business are an important and essential asset who contribute to

development and growth, in a similar way as physical assets such as

machines and money. The collective attitude, skill and abilities of people

contribute to organization performance and productivity. Any expenditure

in training, development, health and support is an investement not just an

expense.”

 

Arti dari pengertian ini bahwa human capital merupakan konsep yang menjelaskan bahwa manusia dalam organisasi dan bisnis merupakan aset yang penting dan beresensi, yang memiliki sumbangan terhadap pengembangan dan pertumbuhan, sama seperti halnya aset-aset fisik seperti mesin dan modal kerja. Sikap, skill dan kemampuan manusia memiliki konstribusi terhadap kinerja dan produktivitas organisasi. Pengeluaran untuk pelatihan, pengembangan, Kesehatan dan dukungan merupakan investasi dan bukan hanya biaya tapi merupakan investasi.

 

Menurut Edwinson dan Malone (1997) human capital is the individual knowledge, experiance, capability, skills, creativity, inovativeness. Knowledge meliputi pengetahuan mengenai teks akademik yang diperoleh melalui pendidikan, skill adalah kemampuan untuk bekerja/memenuhi kemampuan praktikal.

 

Pengetahuan merupakan bagian dari sumber daya vital human capital. Human capital adalah unsur dari intellectual capital yang terdiri atas simpanan dan aliran pengetahuan yang tersedia untuk sebuah organisasi. Pengetahuan dalam Kusumadmo (2013), adalah penggunaan informasi dan data secara penuh yang dilengkapi dengan potensi ketrampilan, kompetensi, ide, intuisi, komitmen, dan motivasi orang-orang yang terlibat. Pandangan holistic menganggap pengetahuan terdapat di dalam berbagai ide, keputusan, talenta, akar penyebab, hubungan, perspektif, dan konsep. Pengetahuan disimpan di dalam otak individu atau di-encode (diubah dalam bentuk kode) di dalam proses, dokumen, produk, fasilitas, dan system organisasi. Pengetahuan adalah tindakan, inovasi terfokus, keahlian, keahlian yang dikumpulkan menjadi satu, hubungan, dan aliansi khusus.

 

Menurut Pfeffer dan Sutton (2000), dalam Kusumadmo (2013), pengetahuan adalah perilaku dan kegiatan bernilai tambah. Pengetahuan mencakup tacit knowledge (ada di kepala orang) dan explicit knowledge (dikodifikasi dan diekpresikan sebagai informasi di dalam database, dokumen, dan lain-lain). Menurut Skyrme (2001), dalam Kusumadmo (2013), menyatakan pengetahuan tidak statis. Sebaliknya, ia selalu berubah dan berkembang sepanjang hidup organisasi. Selain itu, bentuk pengetahuan memiliki kemungkinan untuk diubah, yaitu ada kemungkinan untuk mengubah pengetahuan yang saat ini tacit menjadi pengetahuan explicit baru dan untuk mengubah pengetahuan yang saat ini explicit menjadi pengetahuan tacit baru.

 

Pengetahuan/knowledge setiap individu didalam organisasi atau perusahaan berbeda – beda sehingga menyebabkan pengetahuan itu tidak berkembang secara merata didalam lingkungannya. Sangatlah sulit bagi perusahaan untuk menjaga pengetahuan yang dimiliki karyawan terkait dengan pengetahuan si karyawan itu sendiri dan pengetahuan tentang perusahaan. Untuk itu penerapan knowledge management menjadi salah satu solusi untuk membantu pengolahan pengetahuan. Seorang individu didalam organisasi atau perusahaan dapat memiliki pengetahuan yang sama, kemudian dengan pengetahuan yang sama itu dapat membantu mengembangkan sebuah organisasi atau pun perusahaan. 

 

Dalam mengikuti pertumbuhan suatu informasi, tentu tidak hanya langsung menerapkannya tetapi harus melalui adanya suatu proses pengolahan serta pemanfaatan dari informasi yang ada, agar sebuah informasi menjadi sesuatu yang bernilai, kemudian tumbuh menjadi sebuah pengetahuan didalam organisasi atau perusahaan, maka dibutuhkannya suatu sistem atau konsep yang dikenal dengan knowledge management (KM). Melalui konsep ini,dapat membantu sebuah organisasi ataupun perusahaan agar tidak perlu mengeluarkan hal yang lebih untuk menghadapi suatu tingkat persaingan dengan kompetitornya serta menciptakan suatu inovasi baru untuk produk atau jasa yang dimiliki.

 

Knowledge management adalah setiap proses atau praktik membuat, mendapatkan, menangkap, membagi dan menggunakan pengetahuan, kapanpun, untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja organisasi. Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995), dalam Kusumadmo (2013), knowledge management adalah proses penerapan pendekatan sistematis untuk menangkap, menstruktur, mengelola, dan menyebarkan pengetahuan di seluruh organisasi agar dapat digunakan untuk bekerja lebih cepat, menggunakan kembali 'best practice', dan dapat mengurangi biaya mahal dari proyek ke proyek yang sudah pernah dikerjakan. Joshi (2001) dalam Kusumadmo (2013), perilaku knowledge management diidentifikasi sebagai urutan aktivitas-aktivitas knowledge yang menjelaskan maksud dari knowledge management itu sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor dan sumber-sumber knowledge management berperan dalam membentuk perilaku-perilaku knowledge management. James (2004), dalam Kusumadmo (2013), menyatakan knowledge management adalah penciptaan, pengumpulan, dan konversi pengetahuan individual menjadi pengetahuan organisasional.

 

Sebuah knowledge management pada umumnya dikenal sebagai pengolahan suatu pengetahuan. Pengetahuan merupakan campuran dari pengalaman, nilai, informasi kontekstual dan pandangan pakar yang memberikan kerangka untuk mengevaluasi dan menyatukan pengalaman baru dengan informasi. Pengetahuan ini pun selain memiliki suatu nilai juga terdapat suatu tingkatan dimana terdapat sebuah hirarki pengetahuan, yang dimulai dari data kemudian informasi dan menjadi pengetahuan serta hirarki tersebut dilengkapi dengan keahlian dan kapabilitas organisasi. Melalui knowledge management, organisasi mencoba belajar atau menciptakan pengetahuan yang berguna, berpotensi dan membuat itu tersedia untuk siapapun dapat menggunakannya di satu waktu dan tempat yang tepat guna meraih penggunaan yang efektif dalam rangka positif memberi perubahan bagi performa organisasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa knowledge management adalah kumpulan proses yang dikembangkan didalam organisasi untuk menciptakan, memelihara, menyebarkan pengetahuan suatu organisasi.

 

Pengetahuan yang seperti diatas ini yang selanjutnya diolah kedalam sebuah knowledge management, dimana knowledge management ini sendiri juga memiliki beberapa komponen dalam penerapannya. Knowledge management dapat dipandang sebagai tiga tingkat : teknik, teknologi dan sistem yang mendorong penagihan, organisasi, akses saling berbagi dan penggunaan tempat kerja dan pengetahuan perusahaan. Perusahaan yang dapat menghasilkan pengetahuan menggunakan dua jenis pengetahuan, yaitu: Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge.

 

Dari beberapa pendapat mengenai knowledge management, knowledge management sebagai suatu keahlian yang dimiliki oleh suatu organisasi berdasarkan dua sisi, yaitu secara operasional dan strategis. Knowledge management secara operasional artinya manajemen pengetahuan merupakan aktifitas perusahaan atau organisasi dimana terhadi pengembangan dan pemanfaatan pengetahuan, sedangkan knowledge management secara strategis artinya manajemen pengetahuan merupakan langkah untuk memantapkan setiap organisasi atau perusahaan sebagai perusahaan yang berbasis pengetahuan.

 

Pada perkembangan teknologi dan informasi, pengetahuan memiliki peran penting didalam penerapannya untuk membantu mengembangkan suatu proses bisnis. Pengetahuan – pengetahuan ini berasal dari pengolahan suatu data serta informasi – informasi yang didapatkan dari dalam perusahaan ataupun luar perusahaan. Dengan pengetahuan yang terus dikumpulkan dan dimanfaatkan, membuat suatu organisasi atau perusahaan mampu dalam menghadapi persaingan dari tiap kompetitor nya. Fokus dari knowledge management adalah untuk menemukan cara-cara baru untuk menyalurkan data mentah ke bentuk informasi yang bermanfaat, hingga akhirnya menjadi pengetahuan.

 

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, knowledge management adalah setiap proses atau praktik membuat, mendapatkan, menangkap, membagi dan menggunakan pengetahuan, kapanpun, untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja organisasi. Knowledge management harus difokuskan pada pengembangan pengetahuan dan keahlian yang spesifik. Knowledge management berhubungan dengan simpanan dan aliran pengetahuan. Simpanan ini mencakup keterampilan dan pengetahuan yang ditransfer ke dalam sistem komputer. Aliran ini mewakili cara pengetahuan dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya atau dari orang ke database pengetahuan. Di sini pengetahuan diperlakukan sebagai sumber daya kunci, dimana pengetahuan merupakan keunggulan kompetitif langsung bagi perusahaan yang menjual ide-ide dan hubungan.

 

Kegiatan knowledge management ini biasanya dikaitkan dengan tujuan organisasi semisal untuk mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih tinggi. Pada umumnya, motivasi organisasi untuk menerapkan knowledge management antara lain:

 

     Membuat pengetahuan terkait pengembangan produk dan jasa menjadi tersedia dalam bentuk eksplisit

     Mencapai siklus pengembangan produk baru yang lebih cepat

     Memfasilitasi dan mengelola inovasi dan pembelajaran organisasi

     Mendaya-ungkit keahlian orang-orang di seluruh penjuru organisasi

     Meningkatkan keterhubungan jejaring antara pribadi internal dan juga eksternal

     Mengelola lingkungan bisnis dan memungkinkan para karyawan untuk mendapatkan pengertian dan gagasan yang relevan terkait pekerjaan mereka

     Mengelola modal intelektual dan aset intelektual di tempat kerja

Birkinsaw dalam Cut Zurnali (2008) fokus pada tiga keadaan yang sangat memengaruhi berhasil atau tidaknya knowledge management yaitu:

  1. Penerapannya tidak hanya menghasilkan knowledge baru, tetapi juga untuk mendaur-ulang knowledge yang sudah ada.
  2. Teknologi informasi belum sepenuhnya bisa menggantikan fungsi-fungsi jaringan sosial antar anggota organisasi.
  3. Sebagian besar organisasi tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui, banyak knowledge penting yang harus ditemukan lewat upaya-upaya khusus, padahal knowledge itu sudah dimiliki sebuah organisasi sejak lama.

Sehingga, knowledge management akan membuat berbagi informasi (shared information) tersebut menjadi bermanfaat. Knowledge management termasuk strategi dari tanggung jawab dan tindak lanjut (commitment), baik untuk meningkatkan efektivitas organisasi maupun untuk meningkatkan peluang/kesempatan.

Sebagai komponen utama dari intellectual capital, knowledge management berkaitan erat dengan manusia (human capital). Knowledge management mengelola bagaimana perusahaan mendapatkan, saling bertukar, dan menyebarkan pengetahuan tersebut. Itulah yang menyebabkan knowledge management sangat penting bagi praktisi Sumber Daya Manusia. Praktisi Sumber Daya Manusia harus memiliki kemampuan untuk menganalisis berbagai jenis pengetahuan yang disebarkan oleh organisasi dan untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan isu-isu rancangan organisasi, pola karier, dan jaminan pekerjaan.

 

Menurut Cut Zurnali (2008), istilah modal intektual (intellectual capital) digunakan untuk semua yang merupakan asset dan sumberdaya non-tangible atau non-physical dari sebuah organisasi, yaitu mencakup proses, kapasitas inovasi, pola-pola, dan pengetahuan yang tidak kelihatan dari para anggotanya dan jaringan koloborasi serta hubungan organisasi. Intellectual capital juga didefinisikan sebagai kombinasi dari sumberdaya-sumberdaya intangible dan kegiatan-kegiatan yang membolehkan organisasi mentransformasi sebuah bundelan material, keuangan dan sumberdaya manusia dalam sebuah kecakapan sistem untuk menciptakan stakeholder value.

Cut Zurnali (2008) memberikan pandangan yang berbeda tentang klasifikasi umum modal intelektual (intellectual capital). Mengacu pada pandangan Bontis dalam Sanchez et.al., Cut Zurnali mengemukakan bahwa modal intelektual dibentuk dari sistem hubungan antar blok (system of inter-relational blocks), sebagai berikut:

1.     Modal Manusia

Pengetahuan individual yang tak terlihat dari para anggota yang dimiliki organisasi. Human capital ini didefinisikan sebagai kombinasi dari pendidikan, warisan genetik, pengalaman dan sikap, terhadap hidup dan pekerjaan. Ini diukur sebagai fungsi volume.

2.     Modal Struktural

Pengetahuan tak terlihat yang merangkul organisas, ini mengenal keberagaman yang sangat besar dari pemenuhan hubungan untuk mengelola perusahaan dalam sebuah cara yang terkoordinasi. Tanpa ini, intellectual capital hanya merupakan human capital.

3.     Modal Pelanggan

Pengetahuan yang komprehensif dalam bidang pemasaran  dan hubungan dengan pelanggan. Hal ini mencakup pengembangan pengetahuan mengenai pelanggan, pemasok dan asosiasi industrial atau yang berkaitan dengan pemeintah. Customer capital ini dapat diukur sebagai sebuah fungsi lamanya usia perusahaan.

Namun, menurut Cut Zurnali (2008), modal intektual lebih dari sekedar penjumlahan ketiga elemen ini. Hal ini berkaitan dengan bagaimana membiarkan pengetahuan dari sebuah perusahaan bekerja dan menciptakan nilai. Modal intelektual mampu menghasilkan peningkatan nilai organisasi dan dimaksudkan untuk membolehkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari peluang yang ada lebih baik dari yang didapatkan para pesaing dan memberikan peningkatan penghasilan dimasa depan.

Sebagai tambahan, menurut Cut Zurnali (2008), organisasi-organisasi publik mempunyai permintaan eksternal yang terus-menerus untuk transparansi dan informasi yang lebih besar dalam hal penggunaan dana publik. Dan dengan adanya otonomi daerah atau otonomi kampus, tuntutan ini menjadi lebih besar lagi terhadap organisasi, manajemen dan alokasi anggaran mereka. Situasi ini memerlukan sistem pelaporan dan manajemen yang baru (new management and reporting systems).

Menurut Elena (2004), Cut Zurnali (2008) menjelaskan bahwa intellectual capital management dan knowledge management menyediakan metodologi yang efisien untuk mengidentifikasi, mengukur, mengelola dan menyebarkan pengetahuan, inilah yang disebut dengan suatu cara yang pantas  untuk memperbaiki transparansi dan manajemen internal. Intellectual capital management (ICM) dan manajemen pengetahuan adalah seperangkat kegiatan manajerial yang ditujukan pada pengidentifikasian dan pemberian nilai asset-aset pengetahuan organisasi. Pengaruh asset-aset ini melalui pembagian pengetahuan dan menciptakan pengetahuan baru. 

Modal intelektual dalam sebuah organisasi dapat dikelola dengan tahap-tahap sebagai berikut; Tahap pertama, organisasi mengawali manajemen pengetahuan dengan tujuan untuk meminimalkan resiko. Pada tahap ini, organisasi bergegas untuk mencari pengetahuan berharga yang dimilikinya, mengumpulkan dan menggunakan untuk mengatasi masalah organisasi. Pada tahap kedua, organisasi masih memanfaatkan tindakan reaktif dan belum ada suatu proses kreasi pengetahuan yang terencana dengan baik. Namun organisasi sudah mulai mencari secara aktif pengetahuan baru yang terbentuk secara kreasi  antar anggota organisasi. Pada tahap ketiga merupakan tahap pengembangan manejem pengetahuan  yang  umumnya dijumpai di organisasi yang ingin menghasilkan inovasi. Organisasi ini memfokuskan upaya untuk menciptakan pengetahuan yang baru dan proses pengetahuan yang handal.

 

Beberapa implikasi dari teori-teori manajemen pengetahuan dan modal intelektual yaitu bahwa dibutuhkan pengelolaan modal intelektual yang ada diorganisasi melalui kultural atau pun secara struktural. Secara kultural, seorang pemimpin organisasi harus mampu menciptakan iklim organisasi pembelajar sehingga berdampak pada peningkatan kecakapan teknis dan wawasan anggota organisasi sehingga dapat mempermudah organisasi mencapai tujuannya.

 

Sedangkan secara struktural bahwa modal intelektual yang ada diorganisasi harus disadari secara utuh dari pimpinan sampai anggota organisasi untuk menjadikannya dalam struktur organisasi atau menjadi bagian dari divisi kerja atau departemen dalam organisasi. Jika tidak dikelola secara struktural maka modal intelektual organisasi tidak akan tertata dengan baik yang menyebabbkan secara bertahap berkurang dan hilangnya modal inteleketual organisasi. Ketika tidak dikelola secara struktural maka dampak paling buruk dari habisnya modal intelektual adalah adanya intelectual crisis sebuah kondisi dimana organisasi mengalami krisis knowledge worker atau tenaga-tenaga terampil yang mampu memaksimalkan vitalitas organisasi dalam mencapai kinerja yang terbaik.

 

Manajemen pengetahuan akan meminimalkan apa yang oleh Peter F Drucker disebut sebagai ketidak loyalitasan knowledge worker kepada organisasi. Pada dasarnya ketidakloyalan pekerja pengetahuan tersebut dikarenakan tidak adanya pengelolaan yang baik terhadap pekerja pengetahuan, sehingga mereka sering merasa diabaikan dan tidak dihargai modal intelektual dan kecakapan teknis yang mereka miliki, sehingga mereka beralih ke organisasi lain yang lebih menjanjikan dan menawarkan penghargaan lebih baik terhadap pengetahuan dan kecalapan teknis yang mereka miliki. 

 

Penerapan knowledge management dibutuhkan bagi suatu organisasi atau pun perusahaan yang memberdayakan human resource yang cukup banyak atau besar. Serta knowledge management dapat membantu sebuah perusahaan mengolah pengetahuan yang dimiliki dengan baik sehingga pengetahuan ini dapat merata dimiliki setiap individu yang terkait dalam sebuah organisasi dan perusahaan. Dengan menerapkan ini dapat memajukan sebuah organisasi atau perusahaan di bidang pengolahan informasi dan pengetahuan.

 

Organisasi dapat membangun keunggulan kompetitifnya dengan cara menetapkan organizational capital untuk mengubah human capital menjadi intellectual capital secara lebih cepat, berkualitas, efektif, dan efisien. Kebijakan Sumber Daya Manusia tertentu dapat membantu membangun bentuk capital lain di luar human capital dan memfasilitasi hubungan yang positif di antara semua bentuk capital yang akan memungkinkan pengetahuan menjadi bernilai bagi organisasi. Harus ada penciptaan pengetahuan baru, transfer pengetahuan antar individu, serta integrasi pengetahuan dalam organisasi sehingga knowledge management merupakan komponen kunci dari human capital dalam proses mengembangkan intellectual capital dalam mengembangkan sebuah organisasi atau pun perusahaan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Darudiato, Suparto., Setiawan, Kevin., 2013. Knowledge Management: Konsep dan Metodologi. Available at: https://ejournals.umn.ac.id/index.php/SI/article/view/237/209 (Accessed: 12/14/2021)

 

Yanti, fridiyanto., Manajemen Pengetahuan dan Modal Manusia: Available at: https://www.academia.edu/13367465/Manajemen_Pengetahuan_dan_Modal_Manusia?email_work_card=view-paper (Accessed: 12/14/2021)

 

Kurniawat, Susanti., Human Capital di Perguruan Tinggi: Available at: http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._EKONOMI_DAN_KOPERASI/SUSANTI_KURNIAWATI/MAKALAH/Human_Capital.pdf (Accessed: 12/14/2021)

No comments:

Post a Comment

  Testimonial Pekerja Terhadap Website Recruitment Syfa Rizkiyani, Magister Manajemen, Universitas Trilogi Saat ini, teknologi begitu berkem...